ALI: Sinergi BUMN Harus Turunkan Biaya Logistik

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita mengatakan, AP Kargo sangat cocok bekerjasama dengan Garuda Indonesia Cargo. Dia bahkan mengimbau agar Garuda Indonesia juga bekerjasama dengan anak usaha PT Angkasa Pura I (Persero) yakni PT Angkasa Pura Logistik. Alasannya, karena Garuda Indonesia dipandang masih lemah dalam mengelola kargo.

“Garuda tidak mampu meng-handle mafia-mafia kargo yang ada di bandara. Mudah-mudahan dengan kerjasama AP Kargo maka operasional kargo Garuda Indonesia bisa mengalami perbaikan,” jelas Zaldy kepada Bisnis, Kamis (30/3/2017).

Dia pun berpesan agar Garuda Indonesia Cargo tidak hanya fokus bekerjasama dengan sesama BUMN. Sebaiknya, Garuda Indonesia Cargo juga bekerjasama dengan pihak swasta guna menurunkan biaya kargo di bandara, khususnya di Bandara Soekarno-Hatta. Dia berharap Garuda Indonesia Cargo dan AP Kargo bisa mengatasi mafia kargo udara dan pungutan-pungutan liar.

“Ini biaya gudang naik 400% dalam dua tahun. Jangan ambil untung yang berlebihan karena setiap kenaikan tarif adalah biaya logistik,” terangnya.

Denny Fikri, Direktur Utama PT Angkasa Pura Kargo mengatakan sangat menyambut baik sinergi dengan anak usaha Garuda Indonesia. Dia yakin kerjasama ini bisa mendongkrak pendapatan perusahaan yang baru berusia satu tahun ini.

“Ini merupakan langkah strategis perusahaan dalam meningkatkan layanan di bisnis kargo dan logistik bandara. Kami optimis dapat memberikan manfaat dan juga kontribusi atas pendapatan kedua perusahaan,” ujar Denny Fikri melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Rabu (29/3/2017).

Dia menyatakan, salah satu poin kerjasama adalah layanan Cargo Sales Agent, yakni Angkasa Pura Kargo menjadi mitra dari Garuda Indonesia Cargo dalam pelayanan pengiriman kargo melalui maskapai Garuda Indonesia. Direktur Cargo Garuda Indonesia Sigit Muhartono mengatakan, MoU ini akan menciptakan sinergi antar-BUMN atas potensi dan keahlian yang dimiliki masing-masing perusahaan. Dengan demikian ke depannya BUMN semakin memperkuat dan mempercepat perluasan layanan kargo baik dalam skala nasional maupun internasional.

“Komitmen bersama yang dibuat antara Garuda Indonesia dan Angkasa Pura Kargo ini merupakan bagian dari visi dan strategi perusahaan dalam memperkuat lini bisnis kargo Garuda, hal tersebut juga sejalan dengan target perusahaan dalam meningkatkan potensi pertumbuhan bisnis kargo Garuda sebesar 30% pada tahun 2017," tutur Sigit.

Adapun penandatanganan nota kesepahaman antara Garuda Indonesia dan Angkasa Pura Kargo tersebut nantinya juga meliputi kerjasama di bidang logistik dan supply chain, pengelolaan pergudangan di kawasan, pemeriksaan keamanan kargo dan pos (agen inspeksi/regulated agent), pelayanan jasa kargo dan pos lainnya, hingga Cargo Sales Agent. Penjajakan kerjasama yang dilakukan Garuda Indonesia dan Angkasa Pura Kargo merupakan sinergi BUMN berkelanjutan yang sebelumnya telah dilakukan melalui kerjasama dukungan pemanfaatan lahan bisnis komersial PT. Angkasa Pura II (Persero) bersama PT. Garuda Indonesia (Persero), Tbk dalam menunjang potensi market antarkedua BUMN.

Sebagai informasi, Garuda Indonesia Cargo juga sudah bekerjasama dengan BUMN lain misalnya PT Pos Indonesia (Persero) dan PT Bhanda Ghara Reksa (Persero). Selain bergerak di bidang PLB, AP Kargo juga berkeinginan untuk melakukan ekspansi ke bidang forwading dan pusat logistik berikat (PLB). Namun saat ini, perusahaan akan fokus melakukan pembenahan internal sebelum merealisasikan program cargo village pada 2019.

Selama satu tahun beroperasi, kontribusi AP Kargo kepada AP II masih terbilang kecil, sekitar Rp150 juta sampai Rp200 juta. Menurut Denny, angka ini masih sekitar 30% dari volume total kargo. Pasalnya sekitar 740.000 ton kargo sepanjang 2016 di Bandara Soekarno-Hatta dan diprediksi akan ada kenaikan kargo pada 2017 sekitar 3%.




(Sumber: Bisnis Indonesia)