Bangun Infrastruktur Listrik di Indonesia, PLN Cari Pinjaman Rp 10 T

PT PLN menerbitkan Penawaran Umum Berkelanjutan Il Obligasi Berkelanjutan dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan, dengan target dana yang dihimpun maksimal sebesar Rp 10 triliun (terdiri dari Rp 8 triliun untuk obligasi dan Rp 2 triliun untuk sukuk ijarah).
 
Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan, PLN akan menggunakan dana hasil penerbitan obligasi dan sukuk setelah dikurangi biaya-biaya emisi, untuk untuk memenuhi kebutuhan investasi PLN dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan Indonesia.
 
"Hingga akhir 2016, PLN menguasai 79 persen dari total kapasitas terpasang pembangkit listrik atau sekitar 43.294 MW. Kapasitas tersebut meningkat 3,3 persen dibandingkan 2015 yang sebesar 41.895 MW," ujar Sarwono di Kantor Pusat PLN, kawasan Blok M, Jakarta, Selasa (6/6).

Ia melanjutkan, target dana yang akan dihimpun dalam rencana penerbitan Obligasi Berkelanjutan II Tahap I dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan ll Tahap 1 Tahun 2017 sebanyak-banyaknya sebesar Rp 2 triliun (terdiri dari sebanyaknya Rp 1,6 triliun untuk obligasi dan Rp 400 miliar untuk sukuk ijarah]. Kedua efek utang tersebut rencananya, masing-masing akan diterbitkan dalam tiga seri yaitu seri A tenor lima tahun, seri B tenor tujuh tahun, dan seri C tenor 10 tahun dan telah mendapat peringkat AAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Perseroan telah menunjuk PT Bahana Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT Indo Premier Securities, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai Penjamin Pelaksana Emisi efek (joint lead underwriter/JLU). Sedangkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) bertindak selaku wali amanat.

Untuk kupon obligasi sendiri, dibagi tiga yaitu tenor 5 tahun kuponnya 7,2 - 7,7 persen, 7 tahun 7,55 - 8,10 persen, dan 10 tahun 7,95 - 8,5 persen.
Sesuai rencana, paparan publik (public expose) dilaksanakan pada 6 juni 2017, sedangkan masa penawaran awal (bookbuilding) akan berlangsung pada 6 hingga 15 juni 2017. Pernyataan efektif dari Otoritas jasa Keuangan (O]K) diharapkan terbit pada akhir juni 2017. Sedangkan penawaran umum diharapkan berlangsung pada awal bulan yaitu 3 hingga 6 juli 2017 dan akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 juli 2017.

PLN, selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN), memiliki tiga segmen bisnis, yaitu pembangkit listrik, transmisi, dan distribusi. Selain memiliki pembangkit, Perseroan juga bertindak sebagai pembeli utama listrik dari produsen listrik mandiri (independent power producer/IPP).
 
Sementara itu, PLN adalah satu-satunya penyedia layanan transmisi di Indonesia. Hingga akhir 2016, panjang jalur transmisi perseroan mencapai 44.065 kilo meter sirkit (kms), meningkat 5,7 persen dibandingkan 2015 yang sebesar 41.683 kms. Adapun kapasitas trafo transmisi mencapai 98.898 Megavolt Ampere MVA, naik 6,7 persen dari 92.651 MVA.
Adapun pada segmen distribusi listrik, PLN merupakan distributor tunggal untuk pelanggan akhir di Indonesia. Panjang jalur distribusi perseroan mencapai 887.241 kms pada akhir 2016 atau meningkat 5,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sepanjang 843.098 kms. Sedangkan kapasitas trafo distribusi mencapai 50.099 MVA, naik 6,3 persen dari 47.129 MVA.
 
Hingga akhir 2016, jumlah pelanggan PLN sebanyak 64,3 juta pelanggan, meningkat 5 persen dibandingkan 2015 yang sebanyak 61,2 juta pelanggan. Secara fundamental, PLN didukung oleh permintaan listrik yang kuat di indonesia.
 
Sepanjang 2016, PLN mencatat penjualan listrik sebesar 216 TWh atau meningkat 65 persen dibandingkan 2015 yang sebesar 202,8 TWh. Pertumbuhan ini terutama disebabkan oleh kenaikan pelanggan listrik yang cukup baik. Bertambahnya jumlah pelanggan juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi dari 88,3 persen pada akhir Desember 2015 menjadi 91,16 persen pada Desember 2016.
 
Pertumbuhan jumlah pelanggan juga mendorong pertumbuhan pembelian produksi listrik. Pada 2016, pembelian listrik perusahaan tercatat 64,8 TWh atau naik 12,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 57,5 TWh.
 
Adapun pendapatan PLN pada 2016 mencapai Rp 222,8 triliun, tumbuh 2,5 persen dibandingkan 2015 yang sebesar Rp 217,3 triliun. Laba operasional mencapai Rp 28,8 triliun atau turun 40,3 persen dari Rp 48,3 triliun. Namun demikian, laba bersih PLN meningkat 75,04 persen dari 6 triliun pada tahun 2015 menjadi 10,5 triliun pada tahun 2016.
Sementara itu, total aset PLN hingga akhir 2016 sebesar Rp 1.274,6 triliun, dengan total kewajiban mencapai Rp 393,8 triliun dan total ekuitas Rp 880,8 triliun.





(Sumber Foto: Kompas, Sumber Berita: www.kumparan.com)