Efisiensi Biaya Logistik Perlu Rumusan

Pemerintah perlu mengukur efisiensi biaya logistik dengan menyusun rancangan agregat yang sesuai untuk bisa mengukur daya saing nasional dan bersaing di ranah internasional. Zaroni, peneliti dari Supply Chain Indonesia mengatakan, biaya logistik agregat akan memengaruhi pasar ekspor dan impor. Pengurangan biaya logistik menjadi perhatian regulator karena akan memengaruhi harga perolehan suatu material dan produk. Oleh sebab itu, perbandingan biaya logistik suatu negara terhadap produk domestik bruto (PDB) suatu negara menjadi salah satu isu yang harus diperhatikan.

"Metodologi perhitungan dan perbandingan biaya logistik terhadap PDB penting untuk dipahami, agar kita dapat mengetahui posisi daya saing negara dalam suatu kawasan regional atau global dalam konteks biaya logistik," kata Zaroni kepada Bisnis pada Kamis (20/4/2017).

Dalam perspektif regulator pemerintah, fokus perhatian diarahkan pada perbaikan metodologi penghitungan biaya logistik secara agregat, upaya pengurangan biaya logistik agregat, dan kontribusi setiap sektor logistik terhadap PDB. Oleh sebab itu kinerja logistik suatu negara ditunjukkan dengan Logistics Performance Index (LPI) yang dirilis oleh Bank Dunia setiap tahun.

"Pengukuran kinerja logistik dengan menggunakan indikator biaya logistik banyak digunakan oleh perusahaan dan negara, meskipun sampai saat ini tidak ada standar atau pedoman baku dalam metodologi dan pengukuran biaya logistik," ungkap Zaroni.

Dia mengutarakan, selama ini banyak pendekatan yang digunakan dalam penghitungan biaya logistik, seperti halnya banyak pendekatan dalam penghitungan biaya suatu produk. Misalnya, ada dua pendekatan dalam penghitungan biaya produksi yakni traditional costing dan activity-based costing. Dalam traditional costing, penghitungan biaya didasarkan pada pemakaian sumber daya di setiap komponen biaya produksi dan biaya komersial, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead, biaya pemasaran, biaya distribusi, dan biaya administrasi.

Sementara, activity-based costing, penghitungan biaya didasarkan pada pemakaian sumber daya di setiap aktivitas untuk menjalankan serangkaian proses bisnis perusahaan. "Dari penghitungan biaya logistik setiap komoditas, perusahaan, industri, dan sektor akan diperoleh biaya logstik total atau biaya logistik agregat suatu negara. Selanjutnya, biaya logistik agregat ini dibandingkan secara proporsi dengan PDB total," katanya menjelaskan.

Berdasarkan perbandingan biaya logistik agregat terhadap PDB total akan diperoleh pengukuran efisiensi dan daya saing suatu negara dari aspek indikator kinerja logistik. adapun perbandingan biaya logistik agregat terhadap PDB total, akan memberikan informasi penting dari dua persepktif. Pertama, dari perspektif efisiensi biaya, semakin kecil proporsi biaya logistik total terhadap PDB menunjukkan semakin efisien pengelolaan logistik di negara tersebut. Kedua, perspektif kontribusi sektor logistik.

Dia mengatakan, biaya logistik agregat dapat dipandang sebagai kontribusi sektor penyedia jasa logistik terhadap PDB. Semakin besar biaya logistik agregat terhadap PDB menunjukkan produktivitas dan kontribusi sektor logistik terhadap PDB suatu negara.

"Apakah biaya logistik agregat sebesar 24% terhadap PDB itu tidak efisien? Dalam konteks pembandingan dengan biaya logistik negara-negara lain iya, karena di negara-negara yang kinerja logistiknya maju seperti China, Jepang, Korea (Selatan), Amerika Serikat, biaya logistik total tidak kurang dari 15% terhadap PDB," ungkapnya.

Namun dalam konteks kontribusi sektor logistik terhadap PDB, angka tersebut menunjukkan suatu kontribusi yang cukup besar. "Persoalannya, sampai saat ini belum ada standar berapa biaya logistik total terhadap PDB yang paling efisien dan optimal," tuturnya.





(Sumber: Bisnis Indonesia)