Geliat Pasar Alat Berat Mulai Terlihat

Geliat bisnis tambang mulai membawa hawa segar bagi produksi alat berat di dalam negeri. Meski belum berdampak signifikan, pengaruh kenaikan harga komoditas pertambangan tersebut berdampak positif ke penjualan alat berat sampai dengan Februari 2017.

Jamaluddin, Ketua Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi), mengatakan, pihaknya mencatat tren kenaikan permintaan alat berat terjadi di dua bulan pertama tahun ini sebesar 5%. Kenaikan penjualan terasa di sektor alat pertambangan, kata Jamaluddin kepada KONTAN, Selasa (28/3).

Adanya geliat penjualan alat berat di sektor pertambangan tersebut menjadikan Hinabi optimistis, bisa mencapai target produksi tahun ini. Tahun ini Hinabi mematok produksi 4.200 unit, atau tumbuh 3,3% dibanding realisasi produksi tahun lalu sebanyak 4.066 unit, kata Jamaluddin.

Dari target produksi tersebut Hinabi berharap, penjualan alat berat dari sektor tambang bisa mencapai 30% atau 40%. Adapun tren kenaikan penjualan alat berat di dua bulan pertama tahun ini setidaknya terasa di luar Jawa, khususnya di wilayah Kalimantan. Adapun penjualan alat berat di pulau Jawa, Jamaluddin bilang belum terlihat kenaikan secara signifikan. Mengingat, permintaan alat berat di Jawa terutama untuk alat berat untuk konstruksi sudah terjadi sejak dua tahun sebelumnya.

Salah satu pelaku industri alat berat yang mencatat kenaikan penjualan adalah PT United Tractors Tbk. Ari Setiyawan, Hubungan Investor United Tractors, menyebutkan, sampai Februari lalu, penjualan Komatsu tercatat 534 unit atau tumbuh 53% ketimbang penjualan periode yang sama tahun sebelumnya, sebanyak 348 unit.

"Target penjualan kami masih sama, sebanyak 2.700 unit untuk tahun ini," kata Ari saat dihubungi KONTAN, Selasa (28/3).

Tahun lalu penjualan alat berat anak usaha dari Astra International tersebut baru mencapai 2.100 unit. Terkait realisasi penjualan alat berat di dua bulan awal tahun ini, sebesar 39%, merupakan alat berat untuk sektor tambang. Porsi penjualan alat berat sektor tambang tersebut naik ketimbang kontribusi penjualan periode yang sama tahun lalu yang baru 20% . Geliat penjualan alat berat di awal tahun tersebut membuat manajemen emiten berkode saham UNTR di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut optimistis, bisa membukukan kenaikan penjualan 15% tahun ini.

Adapun jenis alat berat yang dijagokan UNTR tahun ini adalah; ekskavator, dump truck dan bulldozer. Pemain lain yang optimistis menggeber penjualan alat berat tahun ini adalah PT Sany Perkasa. Benny Kurniajaya, Presiden Direktur PT Sany Perkasa. optimistis, di atas kertas menggenjot penjualan alat berat hingga 30%. Saat ini stok alat berat kami banyak yang kosong, sementara permintaan masih banyak, kata Benny, kepada KONTAN (24/3).

Meski penjualan diproyeksikan membaik, target penjualan tersebut masih jauh dari prestasi produksi alat berat nasional tahun 2012. Saat itu produksi hingga 7.947 unit.


(Sumber Berita: Kontan.co.id)