Indonesia-Afrika Selatan Jajaki Kerja Sama Ekonomi

Pemerintah Indonesia dan Afrika Selatan sepakat mengidentifikasi potensi kerja sama bidang ekonomi dalam upaya meningkatkan hubungan perdagangan maupun investasi.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan saat ini arah kebijakan pemerintah adalah membuka pasar ekspor nontradisional seperti Afrika Selatan, khususnya untuk meningkatkan ekspor nonmigas serta menjalin kerja sama ekonomi dengan mitra baru.

"Afrika Selatan merupakan salah satu negara yang kita perhatikan. Indonesia dan Afrika Selatan akan bekerja lebih dekat dalam mengidentifikasi potensi ekonomi dan juga mencari solusi dari kendala perdagangan, jika ada," kata Enggartiasto di Cape Town, Afrik Selatan, seperti dikutip dari Antara, Minggu (23/7).

Kesepakatan terkait identifikasi tersebut muncul setelah kedua negara melakukan Joint Trade Committee (JTC). Salah satu poin yang akan diidentifikasi oleh kedua negara adalah tingkat kecocokan struktur ekspor-impor antara Indonesia dengan Afrika Selatan dan sebaliknya.
Pemerintah Afrika Selatan mengatakan bahwa identifikasi potensi ekonomi perlu dilakukan untuk mencari gambaran apakah selama ini kendala perdagangan akibat permasalahan tarif atau nontarif.

Sementara Indonesia mengharapkan Afrika Selatan bisa memulai perundingan terkait kesepakatan South African Custom Union Preferential Trade Agreement (SACU-PTA). SACU beranggotakan lima negara yakni Botswana, Lesotho, Namibia, Swaziland, dan Afrika Selatan.

Bea masuk impor untuk produk Indonesia di Afrika Selatan berkisar 20-40 persen, hal tersebut tentu mengurangi daya saing produk dalam negeri karena tidak mendapatkan perlakuan yang wajar. Afrika Selatan mengatakan bahwa segala keputusan tentang penyesuaian tarif harus disetujui oleh seluruh anggota SACU.

Keinginan Indonesia untuk mencapai kesepatakan PTA dengan anggota SACU diharapkan dapat mendukung komunitas bisnis Indonesia dan Afrika Selatan dalam memperbesar pengembangan usaha di kedua negara.
"Pasar Afrika Selatan merupakan salah satu target dan tujuan utama ekspor Indonesia yang diharapkan meningkat untuk kedepannya," kata Enggartiasto.

Adapun total perdagangan kedua negara pada 2016 baru pada kisaran 1 miliar dolar AS. Dari total nilai perdagangan tersebut, nilai ekspor mencapai 727,8 juta dolar AS dan impor senilai 290,8 juta dolar AS. Sehingga Indonesia mengantongi surplus 437 juta dolar AS.
Indonesia berupaya meningkatkan nilai ekspor dan peluang investasi dari kedua belah pihak. Presiden Joko Widodo dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma pada Maret 2017 telah melakukan pertemuan bilateral di Jakarta dan sepakat segera membahas hambatan penurunan tarif atau nontarif untuk produk dan komoditi unggulan.

Produk ekspor Indonesia ke Afrika Selatan antara lain kelapa sawit, karet, otomotif produk, bahan kimia, sepatu, dan kakao. Sementara produk impor Indonesia dari Afrika Selatan adalah bubuk kayu, alumunium, buah-buahan, dan tembaga.




(Sumber: www.kumparan.com)