Ini Hasil Pertemuan Dirjen Bea Cukai se-ASEAN di Bali

Pertemuan Dirjen Bea Cukai se-ASEAN telah dilaksanakan di Bali. Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan. 

Dalam keterangan tertulis dari Bea Cukai, Kamis (18/5/2017), acara bertajuk The 26th Meeting of the ASEAN Customs Directors-General itu telah diselenggarakan selama tiga hari mulai dari 16-18 Mei 2017 di Nusa Dua, Bali. Pertemuan tahunan para Direktur Jenderal Bea dan Cukai se-ASEAN ini merupakan merupakan forum tertinggi di bidang kepabeanan di ASEAN.

Acara tersebut, membahas berbagai kepentingan strategis pabean dalam rangka mendukung terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Di 2017, Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah, dan selama setahun ke depan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai akan menjadi ketua ASEAN Customs.

Di dalam pertemuan dibahas mengenai perkembangan kinerja forum-forum kepabeanan di bawah ASEAN Customs. Forum itu antara lain ASEAN Coordinating Committee on Customs (CCC), the Customs Procedures and Trade Facilitation Working Group (CPTFWG), the Customs Enforcement and Compliance Working Group (CECWG), the Customs Capacity Building Working Group (CCBWG) and the ASEAN Single Window Steering Committee (ASWSC).

Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi menyatakan, dalam pertemuan ini juga dibahas terkait perkembangan kinerja yang signifikan dalam proses integrasi ASEAN Customs, khususnya di beberapa area. Pengesahan ASEAN Harmonised Tariff Nomenclature (AHTN) 2017 merupakan pembaruan dari AHTN 2012. 

Hal ini menandakan upaya yang terus-menerus dalam menyeragamkan klasifikasi barang oleh seluruh ASEAN Customs dengan tujuan simplifikasi proses bisnis, sebagai bentuk fasilitasi perdagangan antar negara. Hingga saat ini, lima negara telah mengimplementasikan AHTN 2017. Disusul dengan negara yang tersisa dengan mempercepat prosedur dalam negerinya untuk dapat segera mengimplementasikan AHTN 2017.

Perkembangan ASEAN Customs Transit System (ACTS) menunjukkan kemajuan signifikan. ACTS merupakan sebuah sistem manajemen yang mengatur keluar masuknya suatu barang dari satu negara ASEAN ke negara ASEAN lainnya dalam satu payung hukum kepabeanan yang bebas dari kompleksitas yang saat ini masih terjadi.

ASEAN Single Window juga merupakan salah satu program yang juga memiliki kemajuan signifikan. Salah satunya dengan diadakannya Project Management Office (PMO) di dalam ASEAN Secretariat untuk mengelola kinerja ASW sehari-hari. Pertukaran data secara elektronik juga telah dimungkinkan dalam ASW. Pencapaian ini akan semakin mewujudkan tujuan ASW untuk mempercepat proses pengeluaran barang, sejalan dengan mengurangi biaya logistik di ASEAN.

Pencapaian lainnya yaitu pengesahan Terms of Reference (TOR) on the Private Sector Engagement sebagai panduan untuk ASEAN Customs Committee, Working Groups and the Private Sector. Hal ini dicanangkan mengingat dapat mendorong private sector nasional, asosiasi nasional, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau usaha kecil menengah (UKM) untuk mendapatkan dukungan dalam memajukan perdagangan ASEAN.

Tak hanya itu, pertemuan ini juga dihadiri mitra dialog dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang, Korea, serta pendatang baru Australia, dan perwakilan dari World Customs Organization (WCO). Beberapa pertemuan bilateral juga diadakan antara mitra dialog tersebut guna menjalin dan mempererat kerja sama. Selain dengan mitra dialog di atas, pertemuan bilateral juga diadakan dengan EU-ASEAN Business Council dan US-ASEAN Business Council yang bertujuan untuk memperkuat kemitraan Bea Cukai dengan sektor bisnis.






(Sumber: Detik Finance)