INVESTASI ENERGI TERBARUKAN: Ungguli AS, China & India Pasar Paling Atraktif

China dan India dinyatakan sebagai dua negara yang paling menarik, sekaligus mengungguli Amerika Serikat (AS), dalam hal investasi energi terbarukan. Seperti dikutip Reuters (Selasa, 16/5/2017), kantor akuntan Inggris Ernst & Young (EY) melaporkan bahwa China menduduki peringkat teratas negara paling menarik untuk investasi energi terbarukan, diikuti oleh India.

Sementara itu berdasarkan peringkat tahunan 40 pasar energi terbarukan di seluruh dunia dalam hal daya tarik, AS menempati peringkat ketiga setelah menduduki posisi tertinggi tahun lalu. Merosotnya posisi AS ke tempat ketiga dipengaruhi oleh perubahan dalam kebijakan energi AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Trump telah mengeluarkan perintah untuk memperbarui banyak kebijakan perubahan iklim di bawah pemerintahan sebelumnya, menghidupkan kembali industri batubara AS, serta meninjau rencana energi bersih, yang mengharuskan negara-negara bagian untuk mengurangi emisi karbon dari pembangkit energi.

Di sisi lain, China tahun ini mengumumkan akan mengeluarkan biaya senilai US$363 miliar untuk mengembangkan kapasitas energi terbarukan pada tahun 2020. Pemerintah India juga telah mengumumkan rencana untuk membangun pembangkit energi terbarukan berdaya 175 gigawatt pada tahun 2022. Di antara negara-negara Eropa, Jerman berada di peringkat keempat, Prancis menempati posisi kedelapan, sedangkan Inggris naik posisi 10 dari posisi 14 pada tahun lalu.

Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa lingkungan investasi terbarukan Inggris terlihat lebih tenang dibanding beberapa tahun terakhir. Meski demikian, kebijakan energi masa depan pasca kemundurannya dari Uni Eropa terlihat tidak pasti.

“Kemunculan kembali Inggris di peringkat 10 besar merupakan akibat dari turunnya peringkat negara-negara lain - terutama Brasil, yang membatalkan pelelangan energi angin dan surya pada bulan Desember – alih-alih kebangkitan yang sangat menggembirakan," kata Ben Warren, head of energy corporate finance di EY.



(Sumber: Bisnis Indonesia)