Membangun Kejayaan Maritim Dimulai dengan Membenahi Tanjung Priok

Maritim

Mengembalikan Indonesia menjadi poros maritim dunia dimulai dari pembenahan pelabuhan. Langkah besar mesti dilakukan dengan merombak kualitas dan sumber daya manusia.
"Khususnya SDM dan khususnya transportasi angkutan laut. Kalau kita bisasa bereskan tata kelola di Tanjung Priok, kita pasti bisa selesaikan permasalahan di tempat lain," ujar Koordinator Tim Sumber Daya Alam Direktorat Litbang KPK  Dian Patria dalam diskusi di Jakarta, Rabu (15/3).


Apabila pelabuhan dikelola dengan benar, tanpa pungli dan korupsi, kejayaan maritim akan kembali. KPK ikut terlibat dalam mengembalikan kejayaan maritim dengan melakukan supervisi.


"Koordinasi supervisi, pencegahan, serta monitoring ada lah permintaan lain dari stakeholder kepada kami (KPK)," imbuhnya.
KPK juga mengundang seluruh otoritas pelabuhan Tanjung Priok di antaranya,  Bea Cukai, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Badan Karantina, dan Ombudsman. Pelabuhan Tanjung Priok dianggap dapat mewakili kondisi pelabuhan lain yang ada di Indonesia, dengan tingkat kesibukan yang paling tinggi, pelabuhan Tanjung Priok dipilih untuk menjadi contoh dari perbaikan di sektor maritim.


Saat ini yang masih menjadi permasalah bersama dalam pengelolaan sektor maritim di antaranya adalah daya saing yang lemah di sektor ini, hal ini disebabkan oleh biaya logistik yang tinggi, dwelling time dan waiting time dalam pelayanan pelabuhan, selain itu masih tingginya tingkat pelanggaran hukum di wilayah laut juga menyebabkan lemahnya sektor ini dalam bersaing dengan sektor lain. Dalam keterangan pers, Bea Cukai sebagai selaku salah satu operator pelabuhan Tanjung Priok juga memiliki peran dalam mendukung perbaikan ini.

Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Priok, Fadjar Donny memaparkan beberapa langkah inisiatif pengelolaan yang dilakukan Bea Cukai dalam membenahi pelabuhan Tanjung Priok. Bea Cukai telah melakukan metode hub and spoke di mana Tanjung Priok ditempatkan sebagai pelabuhan besar, atau hub, dan barang-barang yang masuk akan segera disalurkan ke pelabuhan kecil, atau spoke, untuk mengurangi penumpukan. Selain pembentukan hub and spoke, Bea Cukai Tanjung Priok juga telah mengajukan penataan tempat penimbunan sementara.


"Dengan pengelompokan TPS diharapkan pemeriksaan lebih efektif dan efisien sehingga dampaknya akan menurunkan dwelling time,” ungkap Donny.
Tak hanya itu, pembangunan tempat penimbunan pabean di sekitar Tanjung Priok juga diharapkan dapat bermanfaat untuk long stay container sehingga tidak menumpuk di pelabuhan utama. “Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menekan biaya logistik, dan menarik minat investor yang nantinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelas Donny.


(Sumber: www.kumparan.com)