Menhub Ingin Petugas Pandu Mampu Membuat Kapal ke Kuala Tanjung

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menginginkan para petugas pandu di Selat Malaka mengarahkan agar kapal-kapal yang lewat menuju Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara, Sumatra Utara.

Budi mengungkapkan Pelabuhan Kuala Tanjung akan kurang menarik jika tidak disertai dengan pelayanan lain yang dapat membuat kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka bisa bersandar di pelabuhan yang akan menjadi salah satu hub internasional.

“Kuala Tanjung itu dibentuk sebagai suatu pelabuhan yang besar sekali, kalau tidak disertai dengan suatu service yang lain dia mungkin akan kurang menarik. Oleh karenanya tugas pandu ini mengarahkan para kapal-kapal itu menggunakan Kuala Tanjung,” kata Budi, Jakarta, Selasa (8/8).

Dia menjelaskan para petugas pandu dapat mengarahkan agar kapal-kapal yang melintas Selat Malaka dengan cara melakukan promosi kepada kapal-kapal tersebut.

Saat ini, lanjutnya, kapal-kapal yang melintas di Selat Malaka mencapai 70.000 – 80.000 kapal setiap tahun – baik itu kapal kargo maupun kapal tanker.

Dia mengungkapkan Indonesia saat ini mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemanduan kapal-kapal yang akan melewati Selat Malaka meskipun sifatnya tidak wajib.

Pemanduan tersebut, ungkapnya, dapat mengembangkan ekonomi dan meningkatkan kepercayaan bangsa lain terhadap jasa pandu Indonesia.

Oleh karena itu, paparnya, perlu petugas jasa pandu yang andal dan kompeten dalam melakukan pandu di Selat Malaka mengingat jalur tersebut cukup rawan dan sangat penting.

“Selat Malaka adalah satu tempat yang prestigious dan kita harus menjaga martabat bangsa di sana dan kita harus menjaganya dengan bagus,” katanya.

Saat ini, paparnya, jumlah petugas pandu di Selat Malaka mencapai 40 orang. Jumlah tersebut, paparnya untuk saat ini sudah cukup.

“Tapi ke depan kita harus meningkatkan kuantitas dan kualitas itu karena pasti saat kita memberikan pelayanan yang bagus itu, keinginan untuk menggunakan jasa ini akan bertambah,” tuturnya.

Secara keseluruhan, kebutuhan petugas pandu relatif cukup. Namun, lanjutnya, pihaknya akan meningkatkan layanan pandu bagi tempat-tempat baru.

Dia menuturkan tempat-tempat baru harus memiliki penjagaan pemanduan yang lebih pasti dengan tingkat akurasi tinggi.

Menurutnya, kapal-kapal yang melintas tempat-tempat baru berpotensi terkena karang atau wilayah-wilayah dangkal jika pemanduan tidak dilakukan dengan baik.

“Kita punya wilayah yang besar, tentu kebutuhan itu dengan meningkatkan service ini, nanti kebutuhan akan menjadi banyak,” katanya.

Untuk diketahui, pada hari ini (8/8), Budi melantik 74 perwira pandu yang telah menyelesaikan Diklat Pandu tingkat II dalam kurun waktu lima bulan yang terbagi dalam dua tahap pelatihan. Tahap pertama, diikuti oleh 40 siswa dan tahap kedua diikuti oleh 34 siswa.



(Sumber: Bisnis Indonesia)