Minat Pengusaha Besar, Uji Coba Kapal RoRo Davao-Bitung Ditunda

Rencana uji coba kapal roll on roll off (RoRo) dari Davao ke Bitung ditunda hingga pekan depan menyusul pergantian kapal oleh operator. Animo yang tinggi dari kalangan pengusaha membuat operator mengganti kapal dengan kapasitas empat kali lebih besar.

Daniel Singal Pesik, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang & Industri (Kadin) Sulawesi Utara, mengatakan rencana uji coba pada awalnya dijadwalkan pada 28 Maret 2017. Namun, operator Asian Marinet Transport Corporation mengganti kapal Super Shuttle RoRo berkapasitas 100 TEUs menjadi kapal dengan kapasitas 400 TEUs.

"Kapalnya diganti untuk antisipasi animo yang ternyata tinggi. Karena kapalnya diganti, otomatis ada proses perizinan yang juga diubah," jelasnya kepada Bisnis.com, Selasa (4/4/2017).

Menurut Daniel, uji coba kapal tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang diteken antara Kadin Sulut, Kadin Davao, dan pemilik Asian Marine Transport Corporation pada akhir Februari 2017 lalu. Rute Bitung-Davao City merupakan bagian dari Master Plan Konektivitas ASEAN dan cetak biru dari The East Asean Growth Area yang sudah dirintis sejak 1994. Inisiatif ini melibatkan empat negara ASEAN, yakni Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Filipina.

Kementerian Perhubungan sebelumnya mengestimasi, waktu tempuh rute Davao-General Santos-Tahuna-Bitung hanya mencapai delapan hari dengan ongkos US$550 per TEUs (Twenty-foot Equivalent Unit). Waktu dan biaya ini jauh lebih irit dibandingkan dengan jalur konvensional Bitung ke Manila yang mencapai lima minggu dengan ongkos US$2.000 per TEUs.

Daniel mengatakan, pembukaan rute Davao-Bitung bakal membantu pengusaha di segmen mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melakukan ekspansi ke pasar luar negeri dengan biaya lebih murah. Pasalnya, pengusaha tak perlu lagi mencarter kapal untuk ekspor dengan kuota minimum yang terlampau besar. Dia menggambarkan, pengusaha kopra di Sangihe bisa mengirim kopra cukup satu kontainer atau 14 ton.

Sebelumnya, untuk mengangkut kopra ke Filipina, pengusaha harus mengumpulkan kopra sebanyak 1.000 ton. Oleh karena itu, pengusaha di Kawasan Timur Indonesia bisa memanfaatkan Davao sebagai batu loncatan untuk menjangkau pasar yang lebih luas di Asia Timur. Impor barang-barang modal dari Asia Timur juga dinilai lebih efisien dilakukan melalui Davao. "Dari segi waktu lebih cepat, dan dari segi cost juga lebih murah. Jadi mari manfaatkan rute ini," ujarnya.





(Sumber: Bisnis Indonesia)