Pelindo II Gandeng Perusahaan Kontainer CMA-CGM

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II / Indonesia Port Corporation (IPC) memastikan salah satu perusahaan kapal kontainer raksasa di dunia asal Prancis, CMA-CGM mulai pekan depan akan melayari Pelabuhan Tanjung Priok. Kepastian kerja sama Pelindo II dengan perusahaan pelayaran bernama lengkap Compagnie Maritime d'Affretement - Compagnie Generali Maritime (CMA-CGM) itu akan diwujudkan dengan kedatangan kapal raksasa berkapasitas hingga sekitar 8.500 TEUS di Tanjung Priok pada 9 April 2017.

Kapal raksasa dengan bobot 95.367 ton, berkapasitas 8.469 TEUS, panjang 335 meter dengan estimasi draft sekitar -14 mLWS dan bakal menjadi kapal kontainer terbesar yang melayari Tanjung Priok itu bernama CMA-CGM Titus.

"Akhir pekan ini, 9 April 2017, satu kapal dari CMA-CGM kapasitas 8.500 TEUS akan sandar di Tanjung Priok untuk pertama kalinya. Rencananya, ke depan akan melayani setiap pekan sekali," tutur Prasetyadi, Direktur Operasi dan Sistem Informasi Teknologi Pelindo II, kepada Bisnis, Rabu (5/4/2017).

Menurutnya, CMA-CGM Titus yang merupakan kapal generasi kelima yang termasuk jenis Post Panamax Plus itu akan melayani pengangkutan barang-barang yang akan di ekspor atau impor ke Amerika Serikat dengan nama layanan Java Sea Express (JAX).

"Rencananya akan datang melayani seminggu sekali. Tapi kalau secara bertahap ternyata muatannya terus bertambah banyak, mereka juga akan mendatangkan kapal yang lebih besar lagi dengan kapasitas hingga 14.000 TEUS," ujarnya.

Jumlah bongkar muat perdana di Tanjung Priok untuk diangkut ke Amerika Serikat sebanyak 2.300 TEUs, di mana sebagian dari muatan sebanyak itu, merupakan barang barang hasil transhipment dari sejumlah pelabuhan di Tanah Air. Pihaknya berharap dengan kehadiran CMA-CGM Titus dapat menjadi pemicu hadirnya shippingline raksasa lainnya untuk melayari Tanjung Priok, sehingga Priok benar-benar dapat menjadi transhipment port besar di kawasan Asia.

"Karena dengan semakin banyaknya kapal besar yang masuk, akan berdampak pada penurunan biaya logistik yang harus ditanggung eksportir maupun importir," ujarnya.




(Sumber: Bisnis Indonesia)