Pengusaha Truk Sulit Bergabung dengan Teknologi Jasa Logistik

Pengusaha truk masih sulit untuk menerima tawaran kerja sama dari sejumlah perusahaan teknologi untuk jasa kurir karena belum ada mekanisme yang jelas. Kyatmaja Lookman, Wakil Ketua Bidang Distribusi dan Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengatakan, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum perusahaan truk menerima tawaran kerjasama dari perusahaan teknologi untuk jasa kurir.

“Kita sampai saat ini belum menemukan formula yang tepat, kalau B2C [business to customer] bisa, kalau B2B [business to business] masih susah,” kata Kyatmaja kepada Bisnis pada Kamis (20/4/2017).

Menurut Kyamaja, pendekatan kerja sama B2B sulit dilakukan karena ada beberapa aturan yang mengikat misalnya, masalah asuransi, masalah term of payment, masalah kerusakan dan kehilangan barang, masalah dokumen retur, dan lainnya. Dia bahkan mengatakan untuk mengedepankan teknologi dalam pelayanan truk, para pengusaha truk sudah bertemu beberapa penyedia aplikasi, sayangnya ada beberapa isu dalam angkutan barang berbasis truk yang tidak bisa dibereskan oleh aplikasi.

“Jadi, rasanya untuk adopsi ini masih agak susah.” tuturnya.

Sebagai informasi, Nattapak Atichartakam, Country Manager Deliveree Manager Deliveree, mengatakan bulan ini pelanggan Deliveree sudah bisa mengirimkan barang dari Jabodetabek ke seluruh Pulau Jawa. Pemesanan dilakukan dengan memasukkan lokasi pengambilan dan pengiriman barang dari aplikasi di mobile atau webapp dan diantarkan dengan mobil boks.

Nattapak mengatakan, saat ini perusahaan terus merekrut pemilik mobil box, dan bekerjasama dengan perusahan truk untuk bergabung dengan platform Deliveree. Setelah melewati proses administrasi, Deliveree juga akan memberikan tes dan pelatihan kepada mitra pengemudi. Hanya pengemudi yang berhasil melewati tes dan pelatihan yang dapat mengambil dan memenuhi pemesanan pelanggan Deliveree.




(Sumber: Bisnis Indonesia)