PTBA Sasar Ekspor Batubara ke Empat Negara

PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) akan menggenjot pemasaran batu bara ke empat negara sebagai siasat turunnya permintaan dari negara lainnya. Langkah ini perlu dibantu oleh pemerintah untuk mempererat hubungan antar negara. PTBA juga perlu memperhatikan risiko.

Adib Ubaidillah, Sekretaris Perusahaan PTBA, mengatakan negara-negara yang menjadi sasaran perusahaan adalah Kamboja, Filipina, Bangladesh, dan Sri Lanka.

“Untuk Kamboja dan Filipina, penjualan ke sana sudah mulai tahun ini. Kalau untuk Sri Lanka, masih kecil. Kami akan mencoba penetrasi lagi,” katanya, Rabu (29/3).

Penjualan ke negara-negara tersebut diharapkan dapat menopang pasar lain yang mengurangi pembelian batu bara, seperti Taiwan dan Hong Kong. Tahun lalu, kontribusi penjualan luar negeri mencapai 40% dari total penjualan sepanjang tahun. Adapun negara-negara tujuan ekspor tersebut antara lain Tiongkok, Jepang, Taiwan India dan Malaysia. PTBA optimis menggarap pasar internasional karena harga batu bara terus menunjukkan kenaikan harga.

Perusahaan plat merah tersebut, memproyeksikan penjualan batu bara berkisar US$81-US$85 per metrik ton. Adapun target produksi batu bara PTBA tahun ini sebesar 32,5 juta ton. Target itu meningkat dari tahun lalu yang mencapai 25 juta ton. Hal ini seiring denag target yang ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebanyak 470 juta ton di sepanjang tahun ini. Target ini meningkat 13,8% dari tahun lalu yang hanya 413 juta ton.

Pengamat pertambangan batu bara, Hendra Sinadia, Deputi Executive Director Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia menanggapi pemerintah perlu mengapresiasi dan mendukung upaya PTBA menyasar negara baru. Pemerintah tentu perlu memberikan beberapa hal yang diperlukan PTBA, seperti pemberian intensif ataupun menambah alokasi anggaran investasi dan sebagainya.

“Saya kira PTBA punya strategi yang jitu dalam menyasar negara-negara ini. PTBA juga sudah melihat sejauh mana potensinya. Upaya ini perlu diapresiasi. Hubungan antara negara juga semakin kuat,” katanya saat diwawancarai bisnis. Hendra mengatakan, meski rezim hukum investasi semakin berimbang, PTBA juga perlu menyusun langkah-langkah untuk mengatasi risiko, salah satunya regulasi di masing-masing negara. “Sama seperti di Indonesia, ada regulasi yang berbeda dengan perusahaan asing,” katanya.





(Sumber: Bisnis Indonesia)