Selat Malaka banyak dilalui oleh kapal-kapal yang keluar masuk ke Asia Tenggara maupun Asia Timur. Oleh karena itu, Indonesia harus aktif mengelola kawasan tersebut. Salah satu tindakan yang diambil adalah melakukan pemanduan. Petugas Indonesia akan menuntun atau membawa awak luar untuk melewati Selat Malaka.

"Pemanduan itu, satu itu kan bisnis. Kita dapat Rp 500 miliar segala macam. Terus kemudian, kedaulatan Indonesia. Masa itu wilayah Indonesia, kita tidak mengelola itu," ujar Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi kepada wartawan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, di 7 Chatsworth Road, Singapura, Selasa (16/5/2017).

Pemanduan bisa meminimalisir hal yang tidak diinginkan. Pemandu pun adalah orang yang mengerti jalur di Selat Malaka. "Lain lagi masalah keamanan. Kalau kita ikut memandu, kita juga memastikan kalau disana tidak terjadi apa-apa," ucap Budi. 

Di wilayah Selat Malaka dan Selat Singapore terdapat beberapa transit di Pulau Sabang sampai Itu Kecil, Kepulauan Riau. Kapal pun bisa diarahkan ke Pelabuhan Kuala Tanjung. "Saya pikir itu strategic, dan strategic lagi kalau kita mengelola pemanduan itu, kita bisa memanage kapal itu ke Kuala Tanjung," ucap Budi. 

Hal tersebut merupakan keuntungan Indonesia untuk memajukan pelabuhan, terutama Pelabuhan Kuala Tanjung. Pengunjung pun diperkirakan akan bertambah karena hal itu. "(Pelindo 1) ngomong sekarang, jangan nanti kalau Kuala Tanjung dibuka, baru kenal dengan orang-orang mereka. Ini penting," ujar budi

"Ada mobil nih, mobil bus. Kita punya terminal di situ, kita regulator. Kalau kita punya kebebasan ke sini dan ke sini. Kalau kita tidak deketin, maka dia akan ketempat lain," sambung Budi 




(Sumber: Detik Finance)